Selasa, 10 Januari 2012

HUBUNGAN PENDIDIKAN DENGAN MOBILITAS SOSIAL


A. Proses Terjadinya Mobilitas Sosial
Gerak social atau social mobility adalah suatu gerak dalam struktur social yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok social. Struktur social mencakup sifat-sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungadalah suatu gerak dalam struktur social yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok social. Struktur social mencakup sifat-sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya.
Tipe-tipe gerrak social yang prinsipil ada dua macam, yaitu gerak social yang horizontal dan vertical. Gerak social horizontal merupakan peralihan individu atau objek-objek social lainnya dari suatu kelompok social ke kelompok social lainnya yang sederajat. Misalnya, seseorang yang beralih kewarganegaraan, beeralih pekerjaan yang sedderajat attau mungkin juga peralihan lainnya. Dengan adanya gerak social yang horizontal, ytidak terjadi perubahan dalam derajat kedudukan seseorang ataupun suatu objek social. Gerak social vertical dimaksudkan sebagai perpindahan individu atau obyek social dari suatu kedudukan social ke kedudukan lainnya, yang tidak sederajat. Sesuai dengan arahnya, maka terdapat dua jenis gerak social yang vertical, yaitu yang naik (social-climbing) dan turun (social-sinking). Dalam pelapisan masyarakat, semakin seimbang kesempatan-kesempatan untuk mendapatkan kedudukan tersebut akan semakin besar gerak social. Itu berarti bahwa sufat system lapisan masyarakat semakin terbuka. Dalam sisyem lapisan terbuka, kedudukan apa yang hendak dicapai semuanya tterserah pada individunya.
Menurut Pitirim A Sorokin, gerak social vertical mempunyai saluran-saluran dalam masyarakat. Proses gerak social vertical melalui saluran tersebut disebut social circulation. Sebagai contoh lembaga pendidikan sebagai saluran gerak social seperti sekolah, pada umumnya merupakan saluran konkrit gerak social yang vertical. Bahkan sekolah-sekolah dapat dianggap sebagai social elevator yang bergerak dari kedudukan-kedudukan yang paling rendah ke kedudukan yang paling tinggi. Kadang-kadang dijumpai keadaan disekolah-sekkolah tertentu hanya dapat dimasuki oleh golongan-golongan masyarakat tertentu di Indonesia sendiri, secara relative dapat ditelaah kedudukan apa yang ditempati oleh lapisan yang rendah maka dia akan mennjadi saluran gerak social yang vertical. Adapula Mobilitas Antargenerasi ( Perpindahan Status yang dilakukan oleh dua generasi. Misal orang tua dengan anak-anaknya ) dan mobilitas intragenerasi ( terjadi dalam satu kelompok generasi yang sama ).
Adapun cara melakukan mobilitas diantaranya yaitu:
Perubahan standar hidup
Melalui perkawinan
Berpindah tempat tinggal dari tempat tinggal yang lama ke tempat tinggal yang baru
Mengubah nama yang menunjukkan posisi sosial yang lebih tinggi.
Perubahan tingkah laku.
Manusia memerlukan kedudukan dan peranan didalam masyarakat dalam hal ini tidak selalu sama dalam hal pemenuhannya. Maka tidak dapat dihindarkan bahwa masyarakat harus menyediakan beberapa macam system pembalasan jasa sebagai pendorong agar individu mau melaksanakan kewajiban-kewajibannya yang sesuai dengan posisinya dalam masyarakat. Dengan demikian mau tidak mau maka harus ada pelapisan masyarakat dan mobilitas social karena gejala tersebut sekaligus memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat, yaitu penempatan individu dalam tempat-tempat yang tersedia dalam struktur social dan mendorongnya agar melksanakan kewajiban yang sesuai dengan kedudukan dan peranannya. Pengisian tempat-tempat tersebut merupakan daya dorong agar mesyarakat bergerak sesuai dengan fungsinya. Akan tetapi wujudnya dalam setiap masyarakat juga berlainan, karena tergantung pada bentuk dan kebutuhan masing-masing masyarakat jelas bahwa kedudukan dan peranan yang dianggap tertinggi oleh setiap masyarakat adalah kedudukan dan oeranan yang dianggap terpenting serta memerlukan kemampuan dan latihan-latihan yang maksimal.
B. Hubungan Pendidikan dengan Mobilitas Sosial
Pendidikan merupaka anak tangga paling penting pada banyak dunia usaha perusahaan industry, bukan Pendidikan dalam kaitannya dengan mobilitasr . Yang pertama berakhir pada jabatan mandor, dan yang lainya bermula dari kedudukan “program pengembangan eksekutif” dan berakhir sebagai pimpinan. Menaiki tangga mobilitas kedua tanpa ijazah pendidikan tinggi adalah sesuatu hal yang jarang terjadi. Hal ini diduga bertambah tingginya taraf pendidikan maka makin besar kemungkinan mobilitas bagi anak golongan rendah menengah. Hal ini tidak selalu benar bila pemdidikan terbatas pada tingkat menengah. Walaupun ditingkatkan sampai SMU masih jadi pertanyaan apakah mobilitas akan meningkat dengan sendirinya. Akan tetapi perguruan tinggi masih dapat memberi perluasan mobilitas, walau jaminan ijasah belum tentu meningkat untuk status social.
Pada dasarnya pendidikan itu hanya salah satu standar pendidikan dari tiga “jenis” yaitu pendidikan informal, formal, dan nonformal. Tampaknya dua jenis terakhir lebih diandalkan, karena kepemilikan tanda lulus seseorang untuk naik jabatan. Pada pendidikan formal dunia kerja dan dunia status kebih mempercayai kepemilikan ijasah tanda lulus untuk naik jabatan atau status. Akan tetapi seiring dengan perkembangan mereka kemudian mempercayai skill atau kemampuan yang bersifat praktis daripada harus menghormati pemegang ijasah yang tidak sesuai dengan kompetensi tanda lulus tersebut.
Dalam persektif lain dari sisi intelektualitas, memang orang-orang yang berpendidikan lebih tinggi derajat sosialnya dalam masyarakat dan biasanya lebih terfolus pada jenjang-jenjang hasil belajar dari pendidikan formal tersebut. Makin tinggi pendidikannya maka makin tinggi pula tingkat penguasaan ilmunya sehingga dipandang memiliki status yang tinggi dalam masyarakat.
Hubungan antara pendidikan dengan mobilitas seperti yang dikemukakan Robert G. Burgess dalam Bahar (1989: 37) bahwa system pendidikanlah yang menjadi mekanisme mobilitas social. Pendapat Ivan Reid (1989: 37) menyatakan bahwa pendidikan memainkan peranan penting dalam mobilitasd social sekallipun tidak tertuju pada penempatan pekerjaan teertentu. Berkaitan dengan peranan pendidikan dalam mobilitas social, kita mengetahui bahwa kualifikasi pendidikan harus dihubungkan secara langsung dengan jenis pekerjaan.
Ada beberapa hal dalam melihat hubungan antara pendidikan dengan mobilitas social yaitu: kesempatan pendidikan yang banyak ditentukan oleh factor-faktor tertentu antara lain kedudukan atau status social masyarakat. Kalangan masyarakat bawah menginginkan terjadinya perubahan atau mobilitas social melaui pendidikan. Selain itu juga untk mendapatkan pekerjaan, kualifikasi pendidikan ada hubungannya dengan jenis pekerjaan, akan tetapi tidak semua orang yang berkualifikasi tinggi dalam pendidikan mendapatkan yang cocok dengan pekerjaanya. Kesempatan pakerjaan antara sati daerah dengan daerah lainnya berbeda-beda karena mobilitas social dipengaruhi adanya pendidikakn, maka pendidikan menghasilkan kualifikasi yang lbih banyak.
Jadi secara singkat hubungan dengan mobilitas social dipengaruhi kesempatan memperoleh pekerjaan sesuai dengan kualifikasi pendidikannya. Sehingga apabila ingin mobilitas social semakin baik maka kesempatan memperoleh pendidikan semakin baik, dan hasil pendidikan sesuai dengan kebutuhan lapangan pekerjaan.
C. Peran Pendidikan dalam Mobilitas Sosial
Pendidikan dalam kaitannya dengan mobilitas. Yang pertama berakhir pada jabatan mandor, dan yang lainya bermula dari kedudukan “ sosial hanya satu, tapi dua mobilitasarus mampu untuk mengubah mainstrem peserta didik akan realitas sosialnya. Pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting. Pendidikan dapat menjadi penyandar bagi mobilitas. Artinya, dari ketiga pendidikan yang ada, formal, informal, dan nonformal, nampaknya dua dari tiga pendidikan tersebut dapat diandalkan. Pada pendidikan formal dunia pekerjaan dan dunia status lebih mempercayai kepemilikan ijasah tanda lulus seseorang untuk naik jabatan dan naik status.
Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman kemudian mereka lebih mempercayai kemampuan individu atau skill yang harus menghormati kepemilikan ijasah yang kadang tidak sesuai dengan kenyataannya. Inilah yang ahirnya memberikan peluang bagi tumbuhnya pendidikan nonformal yang lebih bisa memberikan keterampilan praktis bagi kebutuhan dunia kerja yang tentunya memiliki pengaruh bagi seseorang.
Pendidikan yang tepat untuk mengubah paradigma ini adalah pendidikan kritis yang pernah digulirkan oleh Paulo Freire. Sebab, pendidikan kritis mengajarkan kita selalu memperhatikan kepada kelas-kelas yang terdapat di dalam masyakarakat dan berupaya memberi kesempatan yang sama bagi kelas-kelas sosial tersebut untuk memperoleh pendidikan. Disini fungsi pendidikan bukan lagi hanya sekedar usaha sadar yang berkelanjutan. Akan tetapi sudah merupakan sebuah alat untuk melakukan perubahan dalam masyarakat. Pendidikan harus bisa memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang realitas sosial, analisa sosial dan cara melakukan mobilitas sosial. Pendidikan yang diinginkan oleh masyarakat adalah proses pendidikan yang bisa mempertahankan dan meningkatkan keselarasan hidup dalam pergaulan manusia.
# makalah kelmpk mobilitas

otonomi pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendidikan
Dalam arti luas, pendidikan dapat diartikan sebagai segala pengalaman belajar yang yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanhjang hidup. Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu. Sementara itu, pengertian pendidikan dalam arti sempit, yaitu pendidikan adalah sekolah, pendidikan merupakan pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Pendidikan adalah segala pengaruh yang diupayakan sekolah terhadap aanak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar mempunyai kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan dan tugas-tugas sosial mereka. Dari kedua pengertian tersebut, maka dapat diambil pengertian bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran,danatau latin, yang berlangsung di sekolah dan luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang. Pendidikan merupakan pengalaman –pengalaman belajar terprogram dalam bemtuk pendidikan formal, non formal, informal disekolah dan diluar sekolah yang berlangsung seumur hidup yang bertujuan optimalisasi.
Adapun karakteristik khusus pendidikan adalah: 1. Masa pendidikan, pendidikan berlangsung seimur hidupdi mana kegiatannya tidak berlangsung sembaran, tetapi pada saat-saat tertentu, 2. Lingkungan pendidikan, pendidikan berlangsung dalam sebagian lingkungan hidup. Pendidikan tidak berlangsung dalam lingkungan yang tergelar dengan sendirinya. Lingkungan lam seitar yanalamtidak mrupaka lingungan pedidikan. Penidikan brangsung dalm lingkugan hidup kultural. 3. Bentuk kegiatan, pendidan dalam pandangan ini dapat nerbentuk pendidikan normal, ninformal, dan informal.kegiatan pendidikan dapat berbentuk bimbingan, pengajaran, dan atau latihan.
B. Pengertian Otonomi Daerah
Secara etimologi, perkataan otonomi berasal dari bahasa latin “autos” yang berarti sendiri dan “nomos” yang berarti aturan. Dengan demikian, mula-mula otonomi berarti mempunyai “peraturan sendiri” atau mempunyai hak/kekuasaan/kewenangan untuk membuat peraturan sendiri. Kemudian arti ini berkembang menjadi “pemerintahan sendiri”. Pemerintahan sendiri ini meliputi pengaturan atau perundang-undangan sendiri, pelaksanaan sendiri, dan dalam batas-batas tertentu juga pengadilan dan kepolisian sendiri (Josep Riwu Kaho,1991:14). Sementara itu, dalam UU No. 32/ 2004 tentang Pemerintah Daerah ditegaskan bahwa otonomi daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

C. Pengaruh Globalisasi terhadap Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah
Berkembangnya zaman hingga era globalisasi saat ini mengakibatkan perlunya manusia mengelola sistem pendidikan nasional agar sejalan dengan dinamika global yang sedang dan akan terjadi. Asaementara itu, sistem pendidikan nasional sebagai suatu organisasi haruslah bersikap dinamis, fleksibel, sehingga dapat menyerapp perubahan-perubahan dngan cepat antara perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, perubahan menuju masyarakat yang demokratis dan menghormati hak asasi manusia. Kebijakan yang diambil tentunya dengan memperhitungkan kendala-kendala yang kita hadapi dan kemampuan yang ada pada diri bangsa kita. Pelaksanaan pendidikan nasional yang sangat sentralistis, birokratis sehingga mematikan daya dan lemamouan inovasi dan kreasi. Hal inilah yang menjadikan perlunya dilakukan perubahan ke desentralisasi.

D. Perkembangan Kebijakan Pendidikan dari Sentralisasi ke Desentralisasi
Adanya perkembangan dan tuntutan globalisasi mengakibatkan perlunya dilakukan perubahan dan sudah menjadi suatu keharusan diadakan desentralisasi. Hal ini diperlukan karena sentralisasi sudah tidak memungkinkan lagi diadakan. Faktor rontoknya otokrasi masa Orde Baru melahirkan pandangan yang lebih mengenai kehidupan bermasyarakat yang lebih baih, sejahtera, terutama yang berkaitan dengan pengakuan hak asasi manusia, hal politik, dan hak masyarakat. Pada masa orde baru hak masyarakat banyak dirampas oleh pemerintah. Munculnya gerakan –gerakan separatis yang ingin memisahkan daerahnya dari Negara kesatuan Indonesia. Oleh sebab itulah desentralisasi merupakan suatu keharusan dan tuntutan era reformasi. Desentralisasi pendidikan nasional termasuk dalam tuntutan otonomi daerah.
Sebelum otonomi, pengelolaan pendidikan sangat sentralistik. Hampir seluruh kebijakan pendidikan dan pengelolaan pelaksanaan pendidikan diatur dari Depdikbud. Seluruh jajaran, tingkat Kanwil Depdikbud, tingkat Kakandep Dikbud Kabupaten/Kota, bahkan sampai di sekolah-sekolah harus mengikuti dan taat terhadap kebijakan-kebijakan yang seragam secara nasional, dan petunjuk-petunjuk pelaksanaannya. Kakandep dan sekolah-sekolah tidak diperkenankan merubah, menambah dan mengurangi yang sudah ditetapkan oleh Depdikbud/Kanwil Depdikbud, sekalipun tidak sesuai dengan kondisi, potensi, Kebutuhan sekolah dan masyatrakat di daerah.
Secara konseptual, penerapan asas desentralisasi didasari oleh keinginan menciptakan demokrasi, pemerataan dan efisiensi. Diasumsikan bahwa desentralisasi akan menciptakan demokrasi melalui partisipasi masyarakat lokal. Dengan sistem yang demokratis ini diharapkan akan mendorong tercapainya pemerataan pembangunan terutama di daerah pedesaan dimana sebagian besar masyarakat tinggal. Sedangkan efisiensi dapat meningkat karena jarak antara pemerintah lokal dengan masyarakat menjadi lebih dekat, penggunaan sumber daya digunakan saat dibutuhkan dan masalah diidentifikasi oleh masyarakat lokal sehingga tak perlu birokrasi yang besar untuk mendukung pemerintah lokal.
Ada tiga hal yang berkaitan dengan desentralisasi pendidikan, yaitu: pembangunan masyarakat demokrasi, pengembangan sosial capital, dan peningkatan daya saing bangsa.
1. Masyarakat Demokrasi
Masyarakat demokrasi atau masyarakat Madani suatu m
2. Pengembangan sosial Capital
3. Pengembangan daya Saing
BAB III
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

Redja Mudyahardja. 2001. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Binti Maimunah. 2009. Landasan Pendidikan. Yogyakarta: Teras.

Senin, 09 Januari 2012

perang Balkan 2

vSemenanjung Balkan merupakan wilayah yang selalu bergolak. Heterogenitas etnis, agama, dan budaya
  merupakan akar permasalahan yang sewaktu-waktu dapat meledak menjadi konflik terbuka.
vKepentingan negara-negara besar: Austro-Hungaria, Rusia, Turki, Inggris, Jerman dan Perancis menambah
  rumitnya masalah.
vOleh karena itu tidak berlebihan bila Balkan dicatat sebagai laboratorium peradaban dunia.
 
üMayoritas penduduk Balkan merupakan etnis Slavia yang berasal dari Rusia. Untuk menarik simpati negara-negara Balkan Rusia menjalankan kebijakan Pan Slavia.
üPada abad XIX Balkan merupakan wilayah Ottoman Empire yang diberi nama Roumelia yang terdiri dari: Albania, Macedonia, dan Thracia, Yunani dan Serbia.
Pada bulan Oktober 1908 Austria menduduki Bosnia-Herzegovina. Dari wilayah itu Austria ingin menguasai negara Balkan lainnya
 
perang balkan 1
vMelihat perkembangan di Balkan, pasukan Turki yang berada di Syria ditarik ke wilayah tersebut.
v30 September 1912 Balkan League memulai memobil-isasi pasukan untuk menyerang pasukan Turki.
v18 Oktober 1912 pertempuran pertama terjadi di Montenegro. Pertempuran meluas ke wilayah yang lain: Serbia, Bulgaria, Yunani.
vDalam pertempuran tersebut pasukan Turki dapat dikalahkan.
 
Treaty Of London 1913
vAtas intervensi negara-negara besar, ditandatangani perjanjian London tanggal 30 Mei 1913.
vTurki menyerahkan Crete kepada Yunani
vAlbania dan kepualauan Aegea berada di bawah pengawasan komisi internasional.
vTurki melepaskan wilayah-wilayahnya yang berada di B
alkan.
 
v8 Juli 1913 Serbia-Yunani mengumumkan perang mela-wan Bulgaria.Montenegro, Rumania, Turki membantu Serbia mengadapi Bulgaria.
v30 Juli 1913 Bulgaria tidak sanggup menghadapi gabung-an pasukan Balkan dan Turki sehingga menerima usul perdamaian di Bucharet, Rumania, 10 Agustus 1913.
vBulgaria memberikan wilayah seluas 7770 km kepada Rumania, membagi Macedonia dengan Serb-Grecee.
vBulgaria juga harus menyerahkan beberapa wilayah kepada Turki.
v8 Juli 1913 Serbia-Yunani mengumumkan perang mela-wan Bulgaria.Montenegro, Rumania, Turki membantu Serbia mengadapi Bulgaria.
v30 Juli 1913 Bulgaria tidak sanggup menghadapi gabung-an pasukan Balkan dan Turki sehingga menerima usul perdamaian di Bucharet, Rumania, 10 Agustus 1913.
vBulgaria memberikan wilayah seluas 7770 km kepada Rumania, membagi Macedonia dengan Serb-Grecee.
vBulgaria juga harus menyerahkan beberapa wilayah kepada Turki.

EROPA antara Perang dunia I dan II

pada pasca perang dunia I terjadi perubahan-perubahan yang danga menarik mendasar di eropa yang meliputi bidang ekonomi, militer, sosial, politik di seluruh negara di eropa khusunya triple aliensi dan triple etnte.
untuk melihat situasi kondisi nata perang dunia I dan perang dunia II ada beberapa peristiwa yang perlu diketahui karena menyangkut perkembangan Eropa dahulu dan Eropa sekarang yaitu
REVOLUSI BOLSWIOK
disebut revousi Bolswiok, karena revoluis itu dilakukan oleh golongan atau keluarga Baloswiok. Bolswiok merupakan satu konsep, bukan nama kata ataupun tokoh. mengapa golongan Bolswiok??ketika paham sosialis berkembang di Eropa mulai abad XIX, maka kemudian diadakan kongres sosialis di Eropa yang diikuti oleh seluruh utusan kongres. dalam kongres di Jerman terjadi perepecahan di dalam kongres. kongres pecah menjadi dua yaitu : golongan sosialis radikal dan golongan sosialis moderat.
gerakan sosialis radikal
kesemua tujuananya ingin mengubah bentuk pemerintahan absolute yang membahayakan kelas bawah. karena konteka absolute itu identik dengan kapitalis. untuk mengubah absolute ke kapitalis ada yang berpendapat : harus menggunakan kekerasan dan senjata. artinya ditempuh denga revolusi berdarah. mereka inilah yang disebut komunis. dan mereka inilah golongan Bolswiok
gerakan sosialis moderat
golongan sosialis moderat menghendaki absolute kapitalis melalui cara-cara konstitusional, yaitu dengan cara menguasai parlemen (Duma), maka sosialis harus memperoleh dukungan mayoritas massa. sehingga parlemen dapat mengatur negara. perbedaan tak dapat disatukan (pecah) moderat disebut Menshe-visck.
kemudian paham sosialis yang berkembang di Rusia masih utuh, tetapi ketika Lenin pulang di Rusia ia mengadakan pembaharuan sosialis radikal (Bolswiok) dan di rusia pada awal abad XX sosialis radikal sudah tumbuh subur. karena mayoritas diduduki orang-orang Bolswiok, maka terjadilah revolusi.
Mengapa Terjadi Revolusi Bolswiok??
 revolusi ini terjadi karena kaisar-kaisar di Rusia sangat absolute, ekspanasionin, ailiteristis yang mengakibatkan kesengsaraan raktyat. kita lihat kaisar-kiasar yang memerintah di Rusia hanya ingin ekspanel kemana-mana, sehingga yang semula Rusia hanya sebuah dusun kecil menjadi imperium besar dan menjelma menjadi Uni Sovyet, karena jasa pimpinannya yang ambisius, militeristis dan ekapansionis.
Raja alxander I (1801-1825)
memrintah rusia sejak revolusi pernacis sampai konggrea-wino
Postwar Period in Germany
 
qPasca PD I Jerman merupakan negara yang menghadapi masalah yang sangat kompleks. Secara politis tersudut, secara ekonomi tidak dapat membangun kembali negaranya.
qMasalah ekonomi Jerman:
  1. Inflasi yang tinggi
  2. Hancurnya infrastruktur.
  3. Hilangnya sumber-sumber perekonomian
  4. Hutang luar negeri
qDi bidang politik muncul rasa tidak puas terhadap hasil konggres Vienna yang sangat merugikan dan merendah-kan martabat bangsa Jerman.
 
Perkembangan Republik  Weimar
 
qKarena tidak mampu membayar biaya perang seperti ketentuan kongres Vienna, maka pada Januari 1923 Perancis dan Belgia menganeksasi wilayah Ruhr, sebuah daerah industri di Jerman.
qGustav Stresemann dipilih menjadi chancellor dan membentuk kabinet baru dan berusaha menyelamatkan Ruhr dengan mengadakan perjanjian Locarno pada 1925.
qMendapat simpati dari Sekutu sehingga mendapat bantuan LN untuk mengadakan recovery ekonomi.
q1925 Paul von Hindenburg terpilih sebagai presiden kedua dan Heinrich Bruning sebagai chancellor (PM).
 The Rise of Hitler
 
qKemerosotan ekonomi dan turunnya kepercayaan terhadap Republik Weimar memberikan kesempatan kepada NAZI untuk melakukan kudeta pada tanggal 8 November 1923 yang dikenal dengan Beer Hall Putsch.
qKudeta berhasil digagalkan dan Hitler berhasil di-tangkap dan dipenjara selama kurang lebih 1 tahun.
qSetelah keluar dari penjara Hitler mulai mengadakan reorganisasi partai sehingga NAZI berhasil menjadi partai yang kuat.
qPada pemilihan umum tahun 1932 suara NAZI unggul dibanding partai lain sehingga presiden Hidenburg memilih Hitler sebagai chancellor.
 NAZI’s Regime
 
qSetelah menjadi chancellor, Hitler menempatkan anggota NAZI dalam jajaran birokrasi, kejaksaan dan pemerintahan daerah.
qMelakukan indoktrinasi ajaran nasionalisme-sosialis dengan mengajarkan di sekolah-sekolah.
qMelakukan kontrol dalam bidang sosial, budaya, dan ekonomi.
qMenangkap dan memenjarakan tokoh-tokoh anti-Nazi dalam kamp konsentrasi.
qMemperkuat militer sehingga Jerman tampil sebagai kekuatan yang berpengaruh pada tahun 1930-an.
 Russia
 
qKeikutsertaan Rusia dalam PD I membawa imperium tersebut ke dalam krisis multidimensional. Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh golongan komunis untuk mengambilalih kekuasaan.
qKaum Bholsevick mengambilalih kekuasaan melalui kudeta pada tanggal 25 Oktober 1917 yang mengakhiri kekuasaan pemerintah sementara.
qDibentuk pemerintah baru yang dikenal dengan Soviet Komisaris Rakyat yang diketuai oleh Lenin (kepala negara) dan komite sentral yang diketuai Lev Kamenev (kepala pemerintahan).
Pembentukan Uni Soviet
qPada Desember 1922 dibentuk Uni Soviet yang merupa-kan federasi Rusia dan negara-negara tetangganya di Eropa Timur dan Asia Tengah.
qPemerintah baru segera melaksanakan pembangunan ekonomi dengan program 5 Year Plan (Pelita).
qMelaksanakan reformasi dan militerisasi sehingga Rusia sebagai pemimpin Uni Soviet tumbuh menjadi bangsa yang kuat dan disegani.
qNaiknya Stalin yang menggantikan Lenin semakin meningkatkan pamor negara tersebut di mata dunia.
 
 The Rise of Mussollini
 
qPasca PD I Italia mengalami keterpurukan ekonomi seperti inflasi, naiknya harga bahan makanan, dan lain-lain.
qTerjadi pemogokan kaum buruh dan petani sehingga menimbulkan situasi chaostik.
qBlack Shirts (organisasi paramiliter Fascist) menawarkan diri sebagai pemecah pemogokan untuk menarik simpati kaum industrialis dan tuan tanah.
qDalam pemilu tahun 1921 kaum Fasicst, termasuk Mussollini  berhasil masuk dalam parlemen.
qOktober 1922 Mussollini mengancam akan mengerahkan pasukan ke Roma bila tidak diberi kesempatan memben-tuk kabinet, Victor Emmanuel mengabulkan tuntutan itu.