Selasa, 10 Januari 2012

HUBUNGAN PENDIDIKAN DENGAN MOBILITAS SOSIAL


A. Proses Terjadinya Mobilitas Sosial
Gerak social atau social mobility adalah suatu gerak dalam struktur social yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok social. Struktur social mencakup sifat-sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungadalah suatu gerak dalam struktur social yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok social. Struktur social mencakup sifat-sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya.
Tipe-tipe gerrak social yang prinsipil ada dua macam, yaitu gerak social yang horizontal dan vertical. Gerak social horizontal merupakan peralihan individu atau objek-objek social lainnya dari suatu kelompok social ke kelompok social lainnya yang sederajat. Misalnya, seseorang yang beralih kewarganegaraan, beeralih pekerjaan yang sedderajat attau mungkin juga peralihan lainnya. Dengan adanya gerak social yang horizontal, ytidak terjadi perubahan dalam derajat kedudukan seseorang ataupun suatu objek social. Gerak social vertical dimaksudkan sebagai perpindahan individu atau obyek social dari suatu kedudukan social ke kedudukan lainnya, yang tidak sederajat. Sesuai dengan arahnya, maka terdapat dua jenis gerak social yang vertical, yaitu yang naik (social-climbing) dan turun (social-sinking). Dalam pelapisan masyarakat, semakin seimbang kesempatan-kesempatan untuk mendapatkan kedudukan tersebut akan semakin besar gerak social. Itu berarti bahwa sufat system lapisan masyarakat semakin terbuka. Dalam sisyem lapisan terbuka, kedudukan apa yang hendak dicapai semuanya tterserah pada individunya.
Menurut Pitirim A Sorokin, gerak social vertical mempunyai saluran-saluran dalam masyarakat. Proses gerak social vertical melalui saluran tersebut disebut social circulation. Sebagai contoh lembaga pendidikan sebagai saluran gerak social seperti sekolah, pada umumnya merupakan saluran konkrit gerak social yang vertical. Bahkan sekolah-sekolah dapat dianggap sebagai social elevator yang bergerak dari kedudukan-kedudukan yang paling rendah ke kedudukan yang paling tinggi. Kadang-kadang dijumpai keadaan disekolah-sekkolah tertentu hanya dapat dimasuki oleh golongan-golongan masyarakat tertentu di Indonesia sendiri, secara relative dapat ditelaah kedudukan apa yang ditempati oleh lapisan yang rendah maka dia akan mennjadi saluran gerak social yang vertical. Adapula Mobilitas Antargenerasi ( Perpindahan Status yang dilakukan oleh dua generasi. Misal orang tua dengan anak-anaknya ) dan mobilitas intragenerasi ( terjadi dalam satu kelompok generasi yang sama ).
Adapun cara melakukan mobilitas diantaranya yaitu:
Perubahan standar hidup
Melalui perkawinan
Berpindah tempat tinggal dari tempat tinggal yang lama ke tempat tinggal yang baru
Mengubah nama yang menunjukkan posisi sosial yang lebih tinggi.
Perubahan tingkah laku.
Manusia memerlukan kedudukan dan peranan didalam masyarakat dalam hal ini tidak selalu sama dalam hal pemenuhannya. Maka tidak dapat dihindarkan bahwa masyarakat harus menyediakan beberapa macam system pembalasan jasa sebagai pendorong agar individu mau melaksanakan kewajiban-kewajibannya yang sesuai dengan posisinya dalam masyarakat. Dengan demikian mau tidak mau maka harus ada pelapisan masyarakat dan mobilitas social karena gejala tersebut sekaligus memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat, yaitu penempatan individu dalam tempat-tempat yang tersedia dalam struktur social dan mendorongnya agar melksanakan kewajiban yang sesuai dengan kedudukan dan peranannya. Pengisian tempat-tempat tersebut merupakan daya dorong agar mesyarakat bergerak sesuai dengan fungsinya. Akan tetapi wujudnya dalam setiap masyarakat juga berlainan, karena tergantung pada bentuk dan kebutuhan masing-masing masyarakat jelas bahwa kedudukan dan peranan yang dianggap tertinggi oleh setiap masyarakat adalah kedudukan dan oeranan yang dianggap terpenting serta memerlukan kemampuan dan latihan-latihan yang maksimal.
B. Hubungan Pendidikan dengan Mobilitas Sosial
Pendidikan merupaka anak tangga paling penting pada banyak dunia usaha perusahaan industry, bukan Pendidikan dalam kaitannya dengan mobilitasr . Yang pertama berakhir pada jabatan mandor, dan yang lainya bermula dari kedudukan “program pengembangan eksekutif” dan berakhir sebagai pimpinan. Menaiki tangga mobilitas kedua tanpa ijazah pendidikan tinggi adalah sesuatu hal yang jarang terjadi. Hal ini diduga bertambah tingginya taraf pendidikan maka makin besar kemungkinan mobilitas bagi anak golongan rendah menengah. Hal ini tidak selalu benar bila pemdidikan terbatas pada tingkat menengah. Walaupun ditingkatkan sampai SMU masih jadi pertanyaan apakah mobilitas akan meningkat dengan sendirinya. Akan tetapi perguruan tinggi masih dapat memberi perluasan mobilitas, walau jaminan ijasah belum tentu meningkat untuk status social.
Pada dasarnya pendidikan itu hanya salah satu standar pendidikan dari tiga “jenis” yaitu pendidikan informal, formal, dan nonformal. Tampaknya dua jenis terakhir lebih diandalkan, karena kepemilikan tanda lulus seseorang untuk naik jabatan. Pada pendidikan formal dunia kerja dan dunia status kebih mempercayai kepemilikan ijasah tanda lulus untuk naik jabatan atau status. Akan tetapi seiring dengan perkembangan mereka kemudian mempercayai skill atau kemampuan yang bersifat praktis daripada harus menghormati pemegang ijasah yang tidak sesuai dengan kompetensi tanda lulus tersebut.
Dalam persektif lain dari sisi intelektualitas, memang orang-orang yang berpendidikan lebih tinggi derajat sosialnya dalam masyarakat dan biasanya lebih terfolus pada jenjang-jenjang hasil belajar dari pendidikan formal tersebut. Makin tinggi pendidikannya maka makin tinggi pula tingkat penguasaan ilmunya sehingga dipandang memiliki status yang tinggi dalam masyarakat.
Hubungan antara pendidikan dengan mobilitas seperti yang dikemukakan Robert G. Burgess dalam Bahar (1989: 37) bahwa system pendidikanlah yang menjadi mekanisme mobilitas social. Pendapat Ivan Reid (1989: 37) menyatakan bahwa pendidikan memainkan peranan penting dalam mobilitasd social sekallipun tidak tertuju pada penempatan pekerjaan teertentu. Berkaitan dengan peranan pendidikan dalam mobilitas social, kita mengetahui bahwa kualifikasi pendidikan harus dihubungkan secara langsung dengan jenis pekerjaan.
Ada beberapa hal dalam melihat hubungan antara pendidikan dengan mobilitas social yaitu: kesempatan pendidikan yang banyak ditentukan oleh factor-faktor tertentu antara lain kedudukan atau status social masyarakat. Kalangan masyarakat bawah menginginkan terjadinya perubahan atau mobilitas social melaui pendidikan. Selain itu juga untk mendapatkan pekerjaan, kualifikasi pendidikan ada hubungannya dengan jenis pekerjaan, akan tetapi tidak semua orang yang berkualifikasi tinggi dalam pendidikan mendapatkan yang cocok dengan pekerjaanya. Kesempatan pakerjaan antara sati daerah dengan daerah lainnya berbeda-beda karena mobilitas social dipengaruhi adanya pendidikakn, maka pendidikan menghasilkan kualifikasi yang lbih banyak.
Jadi secara singkat hubungan dengan mobilitas social dipengaruhi kesempatan memperoleh pekerjaan sesuai dengan kualifikasi pendidikannya. Sehingga apabila ingin mobilitas social semakin baik maka kesempatan memperoleh pendidikan semakin baik, dan hasil pendidikan sesuai dengan kebutuhan lapangan pekerjaan.
C. Peran Pendidikan dalam Mobilitas Sosial
Pendidikan dalam kaitannya dengan mobilitas. Yang pertama berakhir pada jabatan mandor, dan yang lainya bermula dari kedudukan “ sosial hanya satu, tapi dua mobilitasarus mampu untuk mengubah mainstrem peserta didik akan realitas sosialnya. Pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting. Pendidikan dapat menjadi penyandar bagi mobilitas. Artinya, dari ketiga pendidikan yang ada, formal, informal, dan nonformal, nampaknya dua dari tiga pendidikan tersebut dapat diandalkan. Pada pendidikan formal dunia pekerjaan dan dunia status lebih mempercayai kepemilikan ijasah tanda lulus seseorang untuk naik jabatan dan naik status.
Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman kemudian mereka lebih mempercayai kemampuan individu atau skill yang harus menghormati kepemilikan ijasah yang kadang tidak sesuai dengan kenyataannya. Inilah yang ahirnya memberikan peluang bagi tumbuhnya pendidikan nonformal yang lebih bisa memberikan keterampilan praktis bagi kebutuhan dunia kerja yang tentunya memiliki pengaruh bagi seseorang.
Pendidikan yang tepat untuk mengubah paradigma ini adalah pendidikan kritis yang pernah digulirkan oleh Paulo Freire. Sebab, pendidikan kritis mengajarkan kita selalu memperhatikan kepada kelas-kelas yang terdapat di dalam masyakarakat dan berupaya memberi kesempatan yang sama bagi kelas-kelas sosial tersebut untuk memperoleh pendidikan. Disini fungsi pendidikan bukan lagi hanya sekedar usaha sadar yang berkelanjutan. Akan tetapi sudah merupakan sebuah alat untuk melakukan perubahan dalam masyarakat. Pendidikan harus bisa memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang realitas sosial, analisa sosial dan cara melakukan mobilitas sosial. Pendidikan yang diinginkan oleh masyarakat adalah proses pendidikan yang bisa mempertahankan dan meningkatkan keselarasan hidup dalam pergaulan manusia.
# makalah kelmpk mobilitas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar